Bagi sampeyan yang bergelut di dunia pendidikan, tidak ada salahnya meluangkan waktu menonton film Korea Teach You a Lesson (2026) bisa menjadi pilihan menarik. Film ini memotret realitas kelam tentang bobroknya sistem sekolah, konflik murid, dilema guru, hingga intervensi orang tua.


Menariknya, demi mengatasi kekacauan ini, pemerintah diceritakan membentuk Biro Perlindungan Hak-Hak Pendidikan. Biro ini dipimpin oleh Na Hwa-jin (Kim Mu-yeol), seorang mantan komandan militer yang tak segan menggunakan kekerasan dan otoritas luasnya demi menegakkan ketertiban.


Pendekatan radikal Hwa-jin seketika memicu nostalgia pada manga legendaris Great Teacher Onizuka (GTO). Jika dulu Eikichi Onizuka—sang mantan pemimpin geng motor—menggunakan metode jalanan yang urakan untuk memahami trauma psikologis muridnya, maka Na Hwa-jin hadir sebagai versi taktis berseragam militer yang siap menghantam kebobrokan sistem dari akar. Dua karakter ini membuktikan bahwa terkadang, ruang kelas membutuhkan metode tidak biasa di luar teks kurikulum untuk membenahi dirinya sendiri.


Premis yang segar dan penuh ketegangan ini membuat Teach You a Lesson sangat direkomendasikan. Saya yang belakangan ini lebih sering nonton film India , maka film ini menjadi tertarik lagi menonton serial Korea yang kerap panjang itu. 


Abaikan saja foto ini. Tonton saja filmnya yang 10 episode. Saya tidak perlu mengulasnya 😂




Siang tadi menjadi salah satu penanda akhir perjalanan akademik mahasiswa HES UMP semester 8. Kami menuntaskan perkuliahan terakhir pada mata kuliah Teknik Penulisan dan Publikasi Ilmiah—sebuah mata kuliah yang dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami metodologi penelitian, tetapi juga mampu menghasilkan karya ilmiah dan berdampak. Sejak awal, saya membagi luaran mata kuliah ini ke dalam tiga target, yaitu: menulis artikel ilmiah, menyusun book chapter ber-ISBN, dan menyelenggarakan kolokium nasional. Alhamdulillah, ketiganya berhasil diwujudkan.


Mereka telah menghasilkan artikel dalam bentuk conceptual paper, menyelesaikan dua book chapter ber-ISBN bertema “Gig Economy” yang saat ini msh dalam tahap penyempurnaan naskah, serta sukses menyelenggarakan Kolokium Nasional HES Ke-2 pada akhir bulan lalu. Kegiatan tersebut diikuti oleh enam perguruan tinggi, yaitu Unida Gontor, UIN Saizu Purwokerto, Universitas Teknologi Surabaya, UNSIQ Wonosobo, STAI Ibnu Sina Batam, dan tentu saja HES UMP sebagai tuan rumah.


Menyaksikan proses belajar mereka adalah pengalaman yang menyenangkan. Di awal perkuliahan, banyak yang merasa mata kuliah ini cukup berat. Setelah dijalani, ternyata memang tetap berat. Hehe. Namun pada akhirnya, semua dapat melewatinya dengan baik. Kini, seluruh mereka telah memiliki akun Google Scholar dengan minimal dua artikel, bahkan sebagian sudah mulai memperoleh sitasi. Yang lebih membahagiakan, mereka sedang menyelesaikan penelitian skripsi masing-masing, dan beberapa di antaranya telah publish artikel sebagai luaran pengganti skripsi (jalur non skripsi).


Sebagai dosen, harapan saya sederhana, sebagaimana harapan rekan-rekan dosen lainnya di Prodi ini. Semoga mrk selalu diberikan kesehatan, ilmu yang bermanfaat dan berkah, kemudahan dalam setiap langkah kehidupan, serta tidak pernah melupakan almamater yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka.


Selamat melanjutkan perjalanan, calon-calon sarjana. Teruslah belajar, berkarya, dan memberi manfaat. Terbaik untuk kalian semua.





Menapaki usia 40 tahun, uban saya nyaris menyampu semua hitam rambut saya yang dulu pernah sebahu. Kira-kira meniru Dao Ming Tse di serial Meteor Garden, sekalipun nggak ada mirip-miripnya sama sekali. Ha!


Soal uban. Entah ini genetik atau bukan. Anak laki-laki pertama dari garis Ibu semuanya pasti beruban lebih cepat bila dibanding saudara yang lain, bahkan sejak pada masa SMP. Makanya, kalau ada yang bertanya kenapa ubah kami telah banyak—ya kami tersenyum saja. Mau gimana lagi, memang kenyataannya begitu.


Pekan kemarin, Luna untuk pertama kalinya mengomentari banyaknya uban di kepala saya.


“Ubannya Ayah itu banyak. Tapi, wajahnya muda” ujar polos Luna. Saya pun tertawa. Tua🤣 




Apresiasi mendalam layak kita sematkan pada keputusan pemerintah yang akhirnya memangkas pajak royalti penulis menjadi 1,5% dari yang semula mencekik di angka 15%. Bagi para pejuang literasi, kebijakan ini tentu menjadi sebuah kabar yang sangat menggembirakan. Bagaimana tidak? Selama ini, rantai industri perbukuan seolah menempatkan penulis di posisi yang paling rentan dan kerap "tersakiti". Perjalanan sebuah buku lahir ke dunia bukanlah proses yang instan. Seorang penulis harus melewati fase riset yang melelahkan, memeras ide, menyusun kata demi kata, hingga akhirnya memberanikan diri mengirimkan naskah tersebut ke meja redaksi penerbit—sebuah pertaruhan besar yang hasilnya bisa berakhir dengan penerimaan yang manis atau penolakan yang getir.


Penderitaan penulis tidak berhenti sampai di sana. Setelah naskah berhasil menembus dapur penerbitan dan naik cetak, tantangan komersial langsung menghadang. Buku-buku tersebut harus melewati sistem konsinyasi yang panjang dengan pihak distributor sebelum bisa nangkring di rak-rak toko buku. Ketika buku akhirnya berhasil terjual, hasil keringat yang termanifestasi dalam bentuk royalti pun masih harus dipotong pajak. Namun, di atas semua kerumitan birokrasi dan bagi hasil tersebut, ada satu kenyataan pahit yang paling menyebalkan dan menguras emosi: pembajakan buku.


Sangat ironis melihat sebuah karya yang ditulis dengan air mata dan dedikasi berbulan-bulan, justru dibajak secara brutal hanya dalam hitungan minggu setelah resmi diluncurkan. Dengan sangat mudah, versi bajakan ini bertebaran di berbagai platform toko online dan TikTok Shop dengan harga yang miring dan tidak masuk akal. Dalam lingkaran setan ini, penerbit jelas menelan kerugian besar, dan pihak yang paling hancur tentu saja adalah sang penulis itu sendiri. Oleh karena itu, di samping memberikan kelonggaran pajak, pemerintah sudah sepatutnya mulai fokus, serius, dan bertindak tegas dalam memberantas praktik pembajakan yang kian terang-terangan ini. Jika hulu pajaknya diperbaiki namun hilir pembajakannya dibiarkan bocor, maka kesejahteraan yang dicitakan akan tetap menjadi angan-angan.


Tentu saja, kita tetap harus bersyukur dan merayakan penurunan pajak royalti ini sebagai sebuah langkah maju. Walaupun kita semua tahu, bagi para penulis pemula, akumulasi royalti yang diterima setelah pemotongan pajak terbaru ini tetap belum bisa digunakan untuk membeli kapal pesiar mewah, apalagi kapal perang megah seperti yang kerap dipamerkan oleh tokoh-tokoh dunia sekelas Donald Trump. Namun, setidaknya sisa royalti tersebut masih cukup ramah di kantong untuk sekadar membeli beberapa porsi kapal selam—versi kuliner pempek khas Palembang yang hangat dan mengenyangkan.


Disadari atau tidak. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa belum banyak penulis di negeri ini yang bisa hidup mapan, sejahtera, dan menggantungkan seluruh roda ekonominya hanya pada satu-satunya profesi sebagai penulis buku. Menjadikan menulis sebagai sandaran hidup utama di tengah iklim industri perbukuan yang masih dirundung oleh kegilaan pembajakan adalah sebuah perjudian nasib yang sangat berani. Insentif pajak 1,5% ini adalah oase kecil yang menyegarkan, namun perjuangan sejati untuk menyelamatkan ekosistem literasi kita dari jarahan para pembajak masih merupakan perjalanan panjang yang harus terus kita kawal bersama.





 Anakku Khawla,


5 tahun lalu..


Sejak menjelang sahur pagi itu Bundamu aku lihat telah sibuk memilah pakai untuk kami kenakan selama berada di rumah sakit. Dalam masalah ini aku mengikuti saja apa yang telah menjadi hak veto Bundamu. 


Seperti biasanya aku hanya menitip sarung dan kaos seadanya, lainnya Bundamu yang memilih di tengah kondisi perutnya yang semakin membesar. Ia tidak memilah bajumu, sebab seluruh bajumu jauh hari telah ia masukkan ke dalam tas khusus—yang siap dibawa ketika kamu ingin keluar dari alam rahim.


Siang harinya, selesai salat dhuhur. Aku dan Bundamu menuju rumah sakit Duta Mulya. Sepanjang perjalanan aku lihat Bundamu terus mengelus perutnya. Aku tahu itu bukan karena sakit, tetapi hanya ingin memberitahumu bahwa semua akan baik-baik saja, sehingga kamu merasa nyaman, tenang, dan selamat.


Setibanya di rumah sakit. Aku mengurusi seluruh persiapan administrasi, sementara Bundamu duduk di pojok ruang pemeriksaan sambil menjaga jarak dengan para pasien lain, karena masih berlakunya pandemic Covid-19. Aku pun harus berbuka puasa di rumah sakit agar tetap selalu mendampingi Bundamu.


“Enak?” tanya bundamu tiba-tiba. Aku menghentikan langkah suapan makan.


“Iya..” aku menjawab lirih.


“Kenapa?”


“Senang melihat Ayah makan begitu” ucap bundamu. Aku pun makan semakin lahap.


Berdasarkan hasil observasi dokter malam itu. Persalinan kelahiranmu akan dilakukan dengan operasi sesar dengan mengikuti bekas sayatan operasi sesar kelahiran kakakmu, Luna. Aku tahu Bundamu lebih siap dengan kondisi apapun. Aku hanya mengikuti apa saja, sepanjang membuat semuanya nyaman, sehat, dan selamat. 


Jadi, malam itu kami menginap di rumah sakit, sebab jadwal kelahiranmu telah dijadwalkan keesokan harinya. Ternyata Bundamu mengalami Hb (hemoglobin) rendah dan harus dilakukan penambahan darah untuk mengantisipasi terjadinya pendarahan yang berakibat vatal terhadapmu dan  nyawa Bundamu. 


Kali ini aku baru mendengar bundamu mengeluh saat transfusi darah. Katanya, sakit campur ngelu, apalagi pada saat mampet. Aku mencoba menenangkan sebisa yang aku lakukan, hingga ia tertidur pulas. 


Lanjut di buku “KLCP” (Keluarga Paruh Waktu Cinta Penuh Waktu" https://ebook.literaaksara.com/index.php/lia/catalog/book/28) 




Motor Tornado punya bapak ini memiliki banyak kenangan bagi saya dan para saudara yang lain. Bukan hanya bagaimana motor ini dibeli dengan drama kehidupan sebagai sumber pencari rejeki, melainkan motor ini menjadi motor pertama bagi kami para anaknya untuk belajar mengendarai sepeda motor.


Waktu baru awal belajar sepeda motor. Saya dan dua adik yang bonceng langsung loncat masuk pekarangan bersama motornya, akibatnya bagian depan dan samping motor ini pecah dan dan bagian samping penuh goresan. Mengetahui motor kesayangan rusak parah, bapak tidak memarahi kami—baginya asal kami selamat, motor masih bisa diperbaiki. Bagi bapak, barang itu kalau tidak rusak, ya hilang. Itu saja.


Ketika mudik ke Madura saya lebih memilih motor ini untuk dikendarai. Rasanya, saya seperti menaiki ribuan kenangan yang tidak mungkin bisa diulang kembali. Dan ternyata anak saya Khawla begitu senang menaikinya. Bahkan sesekali bilang “Ayah, ayo lebih cepat lagi..”, padahal tanpa ia ketahui gigi motornya masuk 4, gas mentok, dan asal knalpot sudah mirip Fortuner cumi-cumi darat. Ha!


Motor Tornado ini memang sudah tua dan seluruh body-nya compang camping. Tetapi, mesin dan enerjinya masih kuat. Seperti halnya bapak yang terus dimakan usia, tetapi ia makin mencintai kami para anak, mantu, cucunya.


Ohya, rumah gedung baru itu milik orang, bukan milik kami. 😂 




 Sama seperti tahun sebelumnya.


Waktu itu...

Saat kita memutuskan untuk melepaskan status kesendirian kita. Mulai hari-hari itu, kita selalu diselimuti beragam serangkaian peristiwa yang kadang membuat kita mengerutkan dahi. Perbedaan pendapat tentang ini-itu tidak jarang kita selami. Sebagai bagian dari serangkaian peristiwa dimana kita sama-sama harus meleburkan ego "ke-aku-an"dalam diri kita masing-masing.

Hari dan bulan pun berganti. Segala bentuk persiapan dan deretan hasil persiapan itu telah terbentang dalam ruang simpanan. Tapi, entah mengapa kita masih terasa ringkih. Padahal pertemuan kita sudah berjalan sekitar tujuh tahun lamanya. Rasanya, terasa masih ada yang mengganjal dalam diri kita. Sesuatu yang tidak bisa kita jelaskan: apa itu sebenarnya. Sampai akhirnya hari itu pun tiba.

Pada hari itu. Aku mengenakan kemeja putih lengan panjang berbalut jas hitam dan peci sisa lebaran. Oleh perwakilan keluargamu, aku diminta duduk di tengah-tengah mushola sebelah rumahmu. Sementara aku sendiri tidak tahu, di mana kamu berada. Tetapi, secara tiba-tiba kamu menghampiriku dari belakangan dengan pakaian yang membuatmu kupandang lebih cantik dari sebelumnya. Dan kita pun menyelesaikan proses tegang dan bahagia itu dengan penuh hikmat sampai akhirnya kita dinyatakan sebagai pasangan: suami-istri. Hingga rasa ringkih dan hal-hal yang mengganjal sebelum prosesi tersebut menguap begitu saja. Hilang!

Kini. Hari-hari yang menegangkan itu telah memasuki tahun ke-12. Dan aku pun selalu berusaha mengingat semua seorangkaian peristiwa itu sebagai rasa syukur yang tidak terkira. Apalagi, Luna dan Khawla telah mengubah seluruh hal dalam hidup kita. Semuanya! Meski secara perlahan kita diajarkan memegang amanah dan karunia Allah untuk kita dekap bersama, hingga ia menjadi pribadi penuh bakti dan kasih sayang.

Rasanya. Bila kita mengingat kembali setiap obrolan menjelang tidur yang kita lalui. Tanpa terasa secara perlahan rangkaian puzzle impian kita mulai tersusun secara rapi dan teratur. Dan seperti biasanya, kita hanya perlu tetap sabar berusaha menyusun sisa-sisa puzzle itu secara perlahan dan hati-hati. Sampai akhirnya, rangkaian puzzle yang utuh nanti itu, disempurnakan oleh Sang Maha Sempurna menjadi saksi hidup bagi para generasi kita. Kelak.

Ohya. Maafkan aku. Bila belakangan ini cukup sok-sibuk dengan diriku sendiri. Sehingga entah mengapa aku tidak bisa menulis banyak-banyak dan panjang-panjang: tentang kita, tentang Luna dan Khawla. Namun setidaknya buku "Keluarga Paruh Waktu Cinta Penuh Waktu" dapat menjadi satu artefak perjalanan kita bersama. Tapi, percayalah, cintaku pada kalian bertiga selalu bertambah banyak-banyak dan panjang-panjang. He!

Selamat ulang tahun ke-12 pernikahan kita, Nda. Kita berdoa dalam-dalam di hati kita. Tidak perlu dalam tulisan ini.

Muach!




Dulu waktu istri masih bekerja di bank, hal paling membosankan adalah akhir tahun. Ia kerap lembur hingga tengah malam untuk mengerjakan pekerjaannya di kantor, sementara saya libur di rumah—mendampingi anak-anak. Namun, setelah istri saya memilih berhenti bekerja, kondisi itu pun tidak jua berubah. 


Kesibukannya akhir tahun pun berpindah ke saya. Dan tahun ini ibu mertua sedang sakit—yang menyebabkan istri dan anak-anak batal ke Purwokerto. Melihat kondisi ini pun kami berdua tertawa. Sebosan apapun kondisi kami—ya tetap terus ditertawan. Tanggung rasanya kalau cuma disenyumi.


Pagi tadi saya pamit berangkat lagi ke Purwokerto karena besok pagi ada acara. Sebelum berangkat, istri meminta Luna supaya memfoto kami berdua. Hasilnya, makin jelas bahwa uban di kepala saya makin banyak. Nyaris putih semua. Ha