Siang tadi menjadi salah satu penanda akhir perjalanan akademik mahasiswa HES UMP semester 8. Kami menuntaskan perkuliahan terakhir pada mata kuliah Teknik Penulisan dan Publikasi Ilmiah—sebuah mata kuliah yang dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami metodologi penelitian, tetapi juga mampu menghasilkan karya ilmiah dan berdampak. Sejak awal, saya membagi luaran mata kuliah ini ke dalam tiga target, yaitu: menulis artikel ilmiah, menyusun book chapter ber-ISBN, dan menyelenggarakan kolokium nasional. Alhamdulillah, ketiganya berhasil diwujudkan.


Mereka telah menghasilkan artikel dalam bentuk conceptual paper, menyelesaikan dua book chapter ber-ISBN bertema “Gig Economy” yang saat ini msh dalam tahap penyempurnaan naskah, serta sukses menyelenggarakan Kolokium Nasional HES Ke-2 pada akhir bulan lalu. Kegiatan tersebut diikuti oleh enam perguruan tinggi, yaitu Unida Gontor, UIN Saizu Purwokerto, Universitas Teknologi Surabaya, UNSIQ Wonosobo, STAI Ibnu Sina Batam, dan tentu saja HES UMP sebagai tuan rumah.


Menyaksikan proses belajar mereka adalah pengalaman yang menyenangkan. Di awal perkuliahan, banyak yang merasa mata kuliah ini cukup berat. Setelah dijalani, ternyata memang tetap berat. Hehe. Namun pada akhirnya, semua dapat melewatinya dengan baik. Kini, seluruh mereka telah memiliki akun Google Scholar dengan minimal dua artikel, bahkan sebagian sudah mulai memperoleh sitasi. Yang lebih membahagiakan, mereka sedang menyelesaikan penelitian skripsi masing-masing, dan beberapa di antaranya telah publish artikel sebagai luaran pengganti skripsi (jalur non skripsi).


Sebagai dosen, harapan saya sederhana, sebagaimana harapan rekan-rekan dosen lainnya di Prodi ini. Semoga mrk selalu diberikan kesehatan, ilmu yang bermanfaat dan berkah, kemudahan dalam setiap langkah kehidupan, serta tidak pernah melupakan almamater yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka.


Selamat melanjutkan perjalanan, calon-calon sarjana. Teruslah belajar, berkarya, dan memberi manfaat. Terbaik untuk kalian semua.





Menapaki usia 40 tahun, uban saya nyaris menyampu semua hitam rambut saya yang dulu pernah sebahu. Kira-kira meniru Dao Ming Tse di serial Meteor Garden, sekalipun nggak ada mirip-miripnya sama sekali. Ha!


Soal uban. Entah ini genetik atau bukan. Anak laki-laki pertama dari garis Ibu semuanya pasti beruban lebih cepat bila dibanding saudara yang lain, bahkan sejak pada masa SMP. Makanya, kalau ada yang bertanya kenapa ubah kami telah banyak—ya kami tersenyum saja. Mau gimana lagi, memang kenyataannya begitu.


Pekan kemarin, Luna untuk pertama kalinya mengomentari banyaknya uban di kepala saya.


“Ubannya Ayah itu banyak. Tapi, wajahnya muda” ujar polos Luna. Saya pun tertawa. Tua🤣 




Apresiasi mendalam layak kita sematkan pada keputusan pemerintah yang akhirnya memangkas pajak royalti penulis menjadi 1,5% dari yang semula mencekik di angka 15%. Bagi para pejuang literasi, kebijakan ini tentu menjadi sebuah kabar yang sangat menggembirakan. Bagaimana tidak? Selama ini, rantai industri perbukuan seolah menempatkan penulis di posisi yang paling rentan dan kerap "tersakiti". Perjalanan sebuah buku lahir ke dunia bukanlah proses yang instan. Seorang penulis harus melewati fase riset yang melelahkan, memeras ide, menyusun kata demi kata, hingga akhirnya memberanikan diri mengirimkan naskah tersebut ke meja redaksi penerbit—sebuah pertaruhan besar yang hasilnya bisa berakhir dengan penerimaan yang manis atau penolakan yang getir.


Penderitaan penulis tidak berhenti sampai di sana. Setelah naskah berhasil menembus dapur penerbitan dan naik cetak, tantangan komersial langsung menghadang. Buku-buku tersebut harus melewati sistem konsinyasi yang panjang dengan pihak distributor sebelum bisa nangkring di rak-rak toko buku. Ketika buku akhirnya berhasil terjual, hasil keringat yang termanifestasi dalam bentuk royalti pun masih harus dipotong pajak. Namun, di atas semua kerumitan birokrasi dan bagi hasil tersebut, ada satu kenyataan pahit yang paling menyebalkan dan menguras emosi: pembajakan buku.


Sangat ironis melihat sebuah karya yang ditulis dengan air mata dan dedikasi berbulan-bulan, justru dibajak secara brutal hanya dalam hitungan minggu setelah resmi diluncurkan. Dengan sangat mudah, versi bajakan ini bertebaran di berbagai platform toko online dan TikTok Shop dengan harga yang miring dan tidak masuk akal. Dalam lingkaran setan ini, penerbit jelas menelan kerugian besar, dan pihak yang paling hancur tentu saja adalah sang penulis itu sendiri. Oleh karena itu, di samping memberikan kelonggaran pajak, pemerintah sudah sepatutnya mulai fokus, serius, dan bertindak tegas dalam memberantas praktik pembajakan yang kian terang-terangan ini. Jika hulu pajaknya diperbaiki namun hilir pembajakannya dibiarkan bocor, maka kesejahteraan yang dicitakan akan tetap menjadi angan-angan.


Tentu saja, kita tetap harus bersyukur dan merayakan penurunan pajak royalti ini sebagai sebuah langkah maju. Walaupun kita semua tahu, bagi para penulis pemula, akumulasi royalti yang diterima setelah pemotongan pajak terbaru ini tetap belum bisa digunakan untuk membeli kapal pesiar mewah, apalagi kapal perang megah seperti yang kerap dipamerkan oleh tokoh-tokoh dunia sekelas Donald Trump. Namun, setidaknya sisa royalti tersebut masih cukup ramah di kantong untuk sekadar membeli beberapa porsi kapal selam—versi kuliner pempek khas Palembang yang hangat dan mengenyangkan.


Disadari atau tidak. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa belum banyak penulis di negeri ini yang bisa hidup mapan, sejahtera, dan menggantungkan seluruh roda ekonominya hanya pada satu-satunya profesi sebagai penulis buku. Menjadikan menulis sebagai sandaran hidup utama di tengah iklim industri perbukuan yang masih dirundung oleh kegilaan pembajakan adalah sebuah perjudian nasib yang sangat berani. Insentif pajak 1,5% ini adalah oase kecil yang menyegarkan, namun perjuangan sejati untuk menyelamatkan ekosistem literasi kita dari jarahan para pembajak masih merupakan perjalanan panjang yang harus terus kita kawal bersama.





 Anakku Khawla,


5 tahun lalu..


Sejak menjelang sahur pagi itu Bundamu aku lihat telah sibuk memilah pakai untuk kami kenakan selama berada di rumah sakit. Dalam masalah ini aku mengikuti saja apa yang telah menjadi hak veto Bundamu. 


Seperti biasanya aku hanya menitip sarung dan kaos seadanya, lainnya Bundamu yang memilih di tengah kondisi perutnya yang semakin membesar. Ia tidak memilah bajumu, sebab seluruh bajumu jauh hari telah ia masukkan ke dalam tas khusus—yang siap dibawa ketika kamu ingin keluar dari alam rahim.


Siang harinya, selesai salat dhuhur. Aku dan Bundamu menuju rumah sakit Duta Mulya. Sepanjang perjalanan aku lihat Bundamu terus mengelus perutnya. Aku tahu itu bukan karena sakit, tetapi hanya ingin memberitahumu bahwa semua akan baik-baik saja, sehingga kamu merasa nyaman, tenang, dan selamat.


Setibanya di rumah sakit. Aku mengurusi seluruh persiapan administrasi, sementara Bundamu duduk di pojok ruang pemeriksaan sambil menjaga jarak dengan para pasien lain, karena masih berlakunya pandemic Covid-19. Aku pun harus berbuka puasa di rumah sakit agar tetap selalu mendampingi Bundamu.


“Enak?” tanya bundamu tiba-tiba. Aku menghentikan langkah suapan makan.


“Iya..” aku menjawab lirih.


“Kenapa?”


“Senang melihat Ayah makan begitu” ucap bundamu. Aku pun makan semakin lahap.


Berdasarkan hasil observasi dokter malam itu. Persalinan kelahiranmu akan dilakukan dengan operasi sesar dengan mengikuti bekas sayatan operasi sesar kelahiran kakakmu, Luna. Aku tahu Bundamu lebih siap dengan kondisi apapun. Aku hanya mengikuti apa saja, sepanjang membuat semuanya nyaman, sehat, dan selamat. 


Jadi, malam itu kami menginap di rumah sakit, sebab jadwal kelahiranmu telah dijadwalkan keesokan harinya. Ternyata Bundamu mengalami Hb (hemoglobin) rendah dan harus dilakukan penambahan darah untuk mengantisipasi terjadinya pendarahan yang berakibat vatal terhadapmu dan  nyawa Bundamu. 


Kali ini aku baru mendengar bundamu mengeluh saat transfusi darah. Katanya, sakit campur ngelu, apalagi pada saat mampet. Aku mencoba menenangkan sebisa yang aku lakukan, hingga ia tertidur pulas. 


Lanjut di buku “KLCP” (Keluarga Paruh Waktu Cinta Penuh Waktu" https://ebook.literaaksara.com/index.php/lia/catalog/book/28) 




 Sama seperti tahun sebelumnya.


Waktu itu...

Saat kita memutuskan untuk melepaskan status kesendirian kita. Mulai hari-hari itu, kita selalu diselimuti beragam serangkaian peristiwa yang kadang membuat kita mengerutkan dahi. Perbedaan pendapat tentang ini-itu tidak jarang kita selami. Sebagai bagian dari serangkaian peristiwa dimana kita sama-sama harus meleburkan ego "ke-aku-an"dalam diri kita masing-masing.

Hari dan bulan pun berganti. Segala bentuk persiapan dan deretan hasil persiapan itu telah terbentang dalam ruang simpanan. Tapi, entah mengapa kita masih terasa ringkih. Padahal pertemuan kita sudah berjalan sekitar tujuh tahun lamanya. Rasanya, terasa masih ada yang mengganjal dalam diri kita. Sesuatu yang tidak bisa kita jelaskan: apa itu sebenarnya. Sampai akhirnya hari itu pun tiba.

Pada hari itu. Aku mengenakan kemeja putih lengan panjang berbalut jas hitam dan peci sisa lebaran. Oleh perwakilan keluargamu, aku diminta duduk di tengah-tengah mushola sebelah rumahmu. Sementara aku sendiri tidak tahu, di mana kamu berada. Tetapi, secara tiba-tiba kamu menghampiriku dari belakangan dengan pakaian yang membuatmu kupandang lebih cantik dari sebelumnya. Dan kita pun menyelesaikan proses tegang dan bahagia itu dengan penuh hikmat sampai akhirnya kita dinyatakan sebagai pasangan: suami-istri. Hingga rasa ringkih dan hal-hal yang mengganjal sebelum prosesi tersebut menguap begitu saja. Hilang!

Kini. Hari-hari yang menegangkan itu telah memasuki tahun ke-12. Dan aku pun selalu berusaha mengingat semua seorangkaian peristiwa itu sebagai rasa syukur yang tidak terkira. Apalagi, Luna dan Khawla telah mengubah seluruh hal dalam hidup kita. Semuanya! Meski secara perlahan kita diajarkan memegang amanah dan karunia Allah untuk kita dekap bersama, hingga ia menjadi pribadi penuh bakti dan kasih sayang.

Rasanya. Bila kita mengingat kembali setiap obrolan menjelang tidur yang kita lalui. Tanpa terasa secara perlahan rangkaian puzzle impian kita mulai tersusun secara rapi dan teratur. Dan seperti biasanya, kita hanya perlu tetap sabar berusaha menyusun sisa-sisa puzzle itu secara perlahan dan hati-hati. Sampai akhirnya, rangkaian puzzle yang utuh nanti itu, disempurnakan oleh Sang Maha Sempurna menjadi saksi hidup bagi para generasi kita. Kelak.

Ohya. Maafkan aku. Bila belakangan ini cukup sok-sibuk dengan diriku sendiri. Sehingga entah mengapa aku tidak bisa menulis banyak-banyak dan panjang-panjang: tentang kita, tentang Luna dan Khawla. Namun setidaknya buku "Keluarga Paruh Waktu Cinta Penuh Waktu" dapat menjadi satu artefak perjalanan kita bersama. Tapi, percayalah, cintaku pada kalian bertiga selalu bertambah banyak-banyak dan panjang-panjang. He!

Selamat ulang tahun ke-12 pernikahan kita, Nda. Kita berdoa dalam-dalam di hati kita. Tidak perlu dalam tulisan ini.

Muach!




Sedari dulu saya selalu memandang gelar sarjana ataupun gelar akademik di atasnya sebagai lambang supremasi manusia beken. Mereka yang berada di jalan jalan sunyi ini akan selalu berhadapan situasi apapun–dengan berbagai dinamika dan permasalahannya masing-masing. Namun, hal paling umum adalah menyelesaikan tugas akhir. Utamanya, skripsi. Ada orang yang dengan mudah mengerjakan skripsi, namun ada pula yang malah phobia dengan skripsi dengan alasan yang beragam, sehingga muncullah ungkapan skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai.


Belakangan ini, telah banyak kampus yang memberikan pilihan untuk menyelesaikan tugas akhir, sehingga tidak harus skripsi. Mereka bisa memilih jalur artikel ilmiah di jurnal, prototype, buku ber-ISBN, dan bentuk lainnya dapat dikonversi atau direkognisi dengan skripsi. Para mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Purwokerto mulai melirik jalur “ninja” ini sejak pandemi Covid-19 lalu termasuk di Prodi saya bernaung yakni HES UMP. Hasilnya, mereka pun lulus tanpa harus repot dengan dokumen skripsi yang tebal itu.


Rasanya, selalu ada rasa bangga dan haru ketika mahasiswa telah dipandang selesai kuliahnya–yang ditandai dengan adanya yudisium ataupun pelepasan. Artinya, mereka telah mampu melakukan perjalanan intelektual dengan memaksa diri untuk berlatih disiplin, mengatur waktu, rajin membaca, dan rajin menulis. 


Hari ini FAI UMP melakukan pelepasan terhadap 129 calon wisudawan/wati untuk periode wisuda September 2025. Alhamdulillah, terdapat 76 calon wisudawan/wati yang telah bekerja sebelum diwisuda dengan berbagai profesi pekerjaan, sehingga fakultas memberikan penghargaan terhadap mereka. Hal telah dilakukan oleh fakultas selama 4 periode wisuda terakhir.  


Akhirnya, merekalah para manusia beken itu.




Selalu senang melihat mahasiswa makin kreatif dan bersemangat mengerjakan tugas akhirnya. Apalagi, tradisi yang berlaku di fakultas selama ini bahwa tugas akhir adalah “gong” atas seluruh mata kuliah. Artinya, mahasiswa yang hendak melaksanakan munaqasyah telah harus lulus semua mata kuliah. 


Mereka begitu bersemangat dan gigih. Bahkan di antara mereka ada yang sampai bimbingan empat kali dalam sepekan. Selain itu, semester gasal ini makin banyak mahasiswa yang mengambil jalur non- skripsi yaitu dengan melakukan publikasi di jurnal. Kali ini cukup variatif, ada yang di jurnal internasional dan jurnal terakreditasi di SINTA. 


Mengapa bisa demikian? Di prodi saya bernaung, Hes Ump sudah dua tahun ini memberlakukan magang berbasis luaran (artikel ilmiah di jurnal dan HKI) di semester 5 magang di lembaga keuangan syariah dan semester 6 Pengadilan Agama/Mahkamah Agung. Itupun belum lagi kolokium yang diselenggarakan oleh prodi. Makanya mahasiswa telah terlatih untuk memilih jalan “ninja” non skripsi dikarenakan mereka telah mampu menghasilkan minimal tiga paper di luar tugas perkuliahan dan konversi skripsi. 


Sulit? Tentu saja tidak. Karena “writing” tresno jalaran soko kulino 




Khawla. Diusianya yang telah melewati empat tahun, ia sudah mulai ingin mengerjakan apa-apa sendiri. Mulai dari makan, pakai baju, mandi, sekolah (PAUD) sudah tidak mau ditunggui, bahkan ia tidak mau digendong.


"Ayah. Dedek bukan bayi lagi. Jangan digendong" keluhnya saat saya masih suka menggendong dan menciumnya.


"Eh, sampai kapanpun saya anak tetap bayi" jawab saya tegas dan otoriter. Wkwk.


"Tidak mauu.." Imbuhnya.


Di situlah saya selalu menyadari bahwa anak-anak makin besar. Alias saya semakin tua 😂