Motor Tornado punya bapak ini memiliki banyak kenangan bagi saya dan para saudara yang lain. Bukan hanya bagaimana motor ini dibeli dengan drama kehidupan sebagai sumber pencari rejeki, melainkan motor ini menjadi motor pertama bagi kami para anaknya untuk belajar mengendarai sepeda motor.
Waktu baru awal belajar sepeda motor. Saya dan dua adik yang bonceng langsung loncat masuk pekarangan bersama motornya, akibatnya bagian depan dan samping motor ini pecah dan dan bagian samping penuh goresan. Mengetahui motor kesayangan rusak parah, bapak tidak memarahi kami—baginya asal kami selamat, motor masih bisa diperbaiki. Bagi bapak, barang itu kalau tidak rusak, ya hilang. Itu saja.
Ketika mudik ke Madura saya lebih memilih motor ini untuk dikendarai. Rasanya, saya seperti menaiki ribuan kenangan yang tidak mungkin bisa diulang kembali. Dan ternyata anak saya Khawla begitu senang menaikinya. Bahkan sesekali bilang “Ayah, ayo lebih cepat lagi..”, padahal tanpa ia ketahui gigi motornya masuk 4, gas mentok, dan asal knalpot sudah mirip Fortuner cumi-cumi darat. Ha!
Motor Tornado ini memang sudah tua dan seluruh body-nya compang camping. Tetapi, mesin dan enerjinya masih kuat. Seperti halnya bapak yang terus dimakan usia, tetapi ia makin mencintai kami para anak, mantu, cucunya.
Ohya, rumah gedung baru itu milik orang, bukan milik kami. 😂
.jpg)
0 comments:
Posting Komentar