Aku Bukan Pelacur

Terasa perlu rasanya, aku menulis lanjutan cerita yang sebelumnya: Secangkir Kopi di Lokalisasi Dolly. Tempat dimana bisnis esek-esek terbesar di Asia tenggara itu berlokasi. Seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya.

Alasan mengapa aku perlu menceritakan sambungannya. Pertama, traffic pembaca Secangkir Kopi di Lokalisasi Dolly menempati menempati posisi pertama, ketimbang tulisan lainnya di Blog-ku yang ala kadarnya ini. Postingan itu sudah dilihat dan dibaca mencapai 2.000 orang. Alasan kedua, karena rencananya Pemkot Surabaya ingin menutup lokasasi Dolly. Dan menggantinya dengan kawasan SMART area. 

Ah, mari kita tinggalkan dulu. Kedua alasan itu. Suasana Gang Jarak—makin ramai. Aku yang masih kaku dipojokan cafĂ© Dangdut. Dengan hanya menikmati kopiku yang semakin dingin dilahap angin malam yang merdu. Lambat laun, perempuan yang sedari tadi meriang gaya duduknya. Mirip ayam bertelor. Perempun yang ada disebelah kursi yang ku duduki bersama sepupuku. Menyambangi kursi kami berdua.

“mampus..Lek..” keluhku pada sepupuku. Yang sudah akrab dengan suasana tempat ini.

“santai ajalah, Kak. Belum apa-apa kok sudah mati. Hehe”

“gundulmu, aku ini gak biasa dengan tempat kayak gini” ucapku. Badanku gemetaran dan jantungku berdesir kencang.

lah, kan Kakak yang ngajak kesini. Santai ajalah”

“tapi, ini kan sudah diluar perkiraan, Lek. Lebih ”

Perempuan berpakaian minim itu pun langsung. Menghamba di kursi kosong. Tepat disebelahku duduk. Ia seakan tahu, bahwa aku pertama kalinya datang ke tempat yang dianggap pusat maksiat ini. Aku mencoba mengontrol emosi. Dan kunci rapat bendungan nafsuku. Agar isi tempurung kepalaku, tidak menjalar kemana-mana. Hingga menyebabkan aku pun terjatuh dalam keisengan. Yang telah aku rencanakan sebelumnya.

“baru pertama ya mas, berkunjung kesini?” sapa perempuan itu. Sambil menyalakan rokok dengan jari lentiknya.

“nggak…” jawabku meyakinkan diri

ah, bohong. Keliatan kok. Tuh, keringatan terus dahinya. Kenalkan, aku Bella”. Sial aku kelihatan lugu dihadapannya. Suasana yang lebih berbeda ketimbang di Manado dan Sarkem—dolly, jauh lebih membuat diri lebih menantang.

“iya. Aku baru pertama kali kesini”

“udah, ah. Jangan digodain. Dia cuma mau main aja kesini” sambar sepupuku membelaku.

“hayyoo mau main apa. Long time apa short time. Aku lagi free kok sekarang. Haha” ledek Bella yang semakin menggodaku.

“nggak gitu. Aku cuma pengin tahu aja. Tentang kehidupan malam di tempat ini. Maksudnya, aku bukan untuk berkencan..”

“owh… pengin tahu yang gimana. Siapa tahu aku bisa bantu”

“serius..”

“suerr..” ucap Bella mengangkat jari peace-nya

“nanti dimarahi sama bosmu”

“santai ajalah. Aku sudah melayani tamu dari sore tadi. Jadi sekarang sudah free

“kalau boleh tahu. Memangnya tiap harinya harus berapa kali tamu”

“paling nggak, 6-7 orang lah. Kebetulan tadi cuma short time doang” ucap Bella. Tanpa merasa canggung sekalipun. Aku pun menjelaskan mengenai keberadaanku di tempat ini.

Menurut penuturan Bella. Yang sudah menjalani profesinya sejak dari 4 tahun silam. Kehidupan di Dolly bisa dibilang pasang surut. Jam operasi yang dibuka sejak sore hari hingga subuh ini. Kadangkala, terganggu oleh razia kepolisian. Meski pun ada pendataan reguler terkait jumlah pemilik jasa seksual dilakukan oleh pemerintah kota.

Baginya, nyaris tidak ada seorang kaum hawa pun di tempat ini menginginkan menjadi profesi. Yang mendapat hujatan besar di masyarakat. Ia menjalani profesinya, dikarena dijual oleh suaminya. Yang terlilit hutang pada seorang germo. Tentu saja, selain desakan ekonomi yang melilit keluarganya. Dari cucuran peluh melayani para penikmat seks inilah ia menghidupi kedua anaknya. Di salah satu kampung di Sidoarjo. Sedangkan, suami durjana itu. Malah kabur tanpa diketahui jejaknya hingga kini.   

“tahun depan. Rencananya aku akan berhenti dari profesiku sekarang ini. Aku baru bisa melunasi hutang suamiku itu baru sampai tahun depan” ucapnya. Sambil memintaku agar memesankan secangkir kopi untuknya.

Tanpa aku sadari. Aku telah menjadi tong curhatan Bella. Sempat, aku menyarankan agar Ia mencari profesi lain. Namun, Bella menjawab dengan rasa sedikit takut: tidak gampang keluar dari cengkraman seorang germo. Selama ia masih memiliki tanggungan.

Apa yang Bella jalani selama ini. Hanya merupakan keterpaksaan. Ia menjadi barang jualan seperti yang terjadi pada zaman Yahudi kuno—yang memperlakukan perempuan sebagai barang dagangan. Sebab baginya, tak ada agama manapun sekarang ini. Yang memperbolehkan perzinahan. Semuanya melarang. Ia yang berbeda keyakinan denganku. Berharap tuhan masih mau mengampuni segala dosa. Yang telah ia lakukan.

“hal yang patut kalian berdua ingat. Aku ini bukan pelacur. Aku tidak suka di panggil dengan panggilan itu. Sekalipun masyarakat di sekitar rumahku. Aku sudah dilebeli panggilan itu. Hukum sosial seperti sangat menyakitkan” keluh Bella.

Hal yang ada dipikirannya kini. Kedua anaknya yang semakin besar. Karena, lambat laun. Mereka akan mengetahui profesi ibunya selama ini. Seburuk apapun kondisinya kelak. Ia masih berharap takdir masih memberikan kebaikan untuk kedua anaknya. Hingga tak terbesit sekalipun kedua anaknya terjerembab dalam lubang yang sama seperti yang ia jalani.

Ia juga ingin memaafkan suaminya—yang telah melukai dan merobek habis noktah pernikahan mereka. Selalim apapun suaminya itu. Ia masih memiliki benih darah terhadap kedua anaknya. Jalan yang bisa ditempuh untuk menyelamatkan dirinya—juga para rekan profesinya, dalam waktu cepat—adalah membayar lunas semua hutang yang melilit. Pada germo mereka masing-masing. Dan memberikan lapangan kerja atau modal. Untuk memulai kehidupan layaknya manusia normal lainnya.

Hal yang lebih penting—adalah masyarakat menerima keberadaan mereka setelah beralih profesi. Tanpa adanya diskriminasi. Jika hal tersebut tidak dipenuhi. Kemungkinan besar tidak akan sedikit, para pemberi jasa penikmat kepuasan itu. Akan kembali pada dunianya semula—dan tidak akan ada gunanya penutupan Dolly. Sebab mereka pasti akan mencari area baru.

Malam pun kian larut dimakan pagi. Ada banyak hal yang tanyakan pada Bella. Ada banyak pula pengetahuan yang aku peroleh terkait kehidupan kupu-kupu malam di Surabaya. Pada prinsipnya, tidak semua orang yang dianggap—pelacur. Itu melacurkan kebaikan dalam diri dan identitasnya. Sebab mereka bagian orang yang jujur dengan pilihannya sendiri. Bukan orang yang sengaja berlindung dalam banyak alasan simbol. Untuk menutupi dirinya yang telah melacurkan ide, keyakinan dan identitasnya.

“makanya, tak jarang ada orang yang pura-pura baik. Dimana diibalik kebaikannya itu. Ada motif luar biasa dan mengerikan. Ketimbang kami yang oleh mereka dicap sebagai pelacur. Patut kamu ingat. Yang lebih mengerikan dari lokalisasi pelacuran. Yakni, mempelacuri keyakinannya sendiri” pangkas Bella diujung perbincangan. Ia pun pamit.

Bella meninggalkan aku dan sepupuku. Pergi dengan keringnya secangkir susu kental dihadapan kami. Perbincangan dengan Bella, perbincangan yang menyenangkan: di tengah tempat dosa terindah.


Sumber gambar (klik)

0 comments: