“bajingan!!”
Sumpah serapah dan letupan kata kotor deras keluar lelaki setengah
baya itu. Ia merasa telah tertipu oleh kaum birokrat yang menilep bayar pajaknya. Diskusi di warung
kopi malam ini menjadi balada kutukan. Hampir setengah peserta merasa tidak
punya masa depan—aset negeri ini sudah menjadi sapi perah bangsa asing. Sedang
pemateri yang pemantik diskusi cukup tega mengeluarkan banyak data tentang
penyalahgunaan wewenang; sebut saja korupsi dan korporatokrasi.
Masih dari kata lelaki itu. Berita di televisi, koran, majalah,
buletin dan ruang-ruang diskusi juga menjadi arena menyampaikan kebiadaban watak
pejabat dan kepesimisan masa depan. Exspose
pemasalahan negeri seakan tak pernah mengering. Adakah yang lebih geram selain
hanya memberi kehampaan jawaban para politisi yang mau mendulang suara?
“potensi bangsa pun mengabur juga kehilangkan harapan. Dan onggokan
kebiadaban maling itu makin menjadi saban hari”. Laki-laki itu makin berang.
yang terdiam dari suara
sabar jiwaku, sabar seluruh bangsaku
Aaah perih tangismu, perih jiwamu
tersisihkan oleh kawanan hitam
semua lelah menanti
[Pidato Bung Karno]
Maka pada saat televisi yang disediakan di warung kopi menayangkan tentang
perempuan yang diperkosa 3 orang polisi Malaysia. Ia pun kembali menayakan
kemana saja para pemimpin negeri ini. “mangapa mereka itu selalu lamban
mengambil sikap. Lupakah mereka dengan sikap funding father negeri!”.
Kekegeraman laki-laki paruh baya itu barangkali juga dirasakan oleh
sebagian besar rakyat bangsa ini. Ah!
Tetangga serumpun kita ini memang selalu membuat ulah. Belum saja kering soal
iklan komersil penjualan TKI. Hari ini sudah kasus pemerkosaan terhadap anak
bangsa ini oleh 3 Polisi Diraja Malaysia secara bergilir hanya karena tidak
bisa memberikan paspor asli. Tabi’at binal ini apakah masih mau disikapi secara
lemah dan lamban
Sialnya, kita pun kembali gagap dalam merespon. Apa saking sibuknya pemimpin
negeri seakan begitu lamban menangani. “Ganyang
Malaysia!” itulah sikap Soekaerno. Dan sekarang perlu cukup dengan nota
protes. Barangkali, kita butuh respon bukan dengan perang tapi sikap tegas.
bersuara untuk mereka, raja negeriku
kau telah lama terdiam
perubahan jerit hatiku, cermin jiwamu
berikan terang untuk masa depan woo
[Pidato Bung Karno]
Kita butuh ketegasan dalam
bersikap. Dan bangsa ini bukan dibangun atas dasar suka-suka dan imbalan oleh
para penjajah. Masalah TKI tak lain perlu tegasnya bersikap. Tidak cukup dengan
lebelitas pahlawan devisa hanya karena menyumbang 60 triliun tiap tahun.
Barangkali kita tidak
perlu menyesali terlahir dari bangsa kian sibuk dengan urusan bangsanya yang
tidak pernah selesai. Ragam permasalahan silih berganti bahkan sebelum masalah
selesai sudah hadir masalah baru—dan hidup memang seperti ini adanya; pribadi
dan berbangsa. Tidak ada jalan lain menghadapi masalah selain tegas bersikap
dan tak canggung menghadapi perubahan.
berpegangan semua saudara
tegar berdiri dalam mimpi yang satu
perubahan untuk tanahmu, tanah airmu
untuk negeri dan mimpi bangsamu
Link gambar (disini)
NOAH|Raja Negeriku|Album Seperti Seharusnya|2012|Musica Studio
0 comments:
Posting Komentar