Sore jelang malam,
Tuan Presiden. Hari ini sebagian besar publik terheran-heran dengan
keputusan yang anda ambil. Kali ini anda kembali memberikan grasi terhadap para
bandar Narkoba. Setelah sebelumnya pengadilan memberikan vonis hukuman mati
terhadap para tersangka yang anda beri grasi itu. Dan alasan anda hanya soal
kemanusiaan.
Benak publik pun hanya bisa menahan asa dalam hati. Menahan heran
dalam kepala. Menggenggam tangan dalam geram. Dan menunduk dalam hak
konstitusi. Grasi—merupakan hak anda sebagai kepala negara. Anda pula dapat memberikannya
(grasi) kepada siapa saja yang menurut anda layak dan sesuai wewenang undang-undang.
Anda juga tahu, bagaimana bahaya Narkoba benar-benar sudah menjadi endemik
kalangan kaum muda di negeri yang anda pimpin ini. Karenanya, anda ingin menjadi
garda depan dalam memerangi narkoba. Seperti yang sudah anda sampaikan dalam
pidato tahun 2006. Sungguh kami benar-benar terkesimak!. Namun, apa yang
terjadi beberapa waktu belakangan ini hingga anda sendiri malah memangkiri apa
anda “ucapkan” dalam pidato. Lagi-lagi anda begitu murah mengobral kepentingan publik
(rakyat) atas nama kemanusiaan. Barangkali, anda sangat murah hati memberi
pengampunan.
Dilain tempat, Tuan Presiden. Saudara kita yang terjerat kasus yang
sama hampir tidak ada yang mendapatkan ampun—dan mereka pun meregang nyawa
ditiang gantung. Lantas, dimana kemanusiaan kita?
Minum kopi,
Mari kita seduh pelan-pelan kopi yang hendak kita minum malam ini,
Tuan. Barangkali, kekuatan kopi membawa kita makin insomnia untuk sekedar
memikirkan lebih jauh permasalahan bangsa ini. permasalahan yang sedang anda
tanggung. Dan kami pun tahu bahwa beban anda sangat berat. Mulai dari maling
dibebagai mega proyek, korupsi, kekerasan, teror-isme, degradasi moral, kemiskinan,
pendidikan mahal, konflik dan lainnya—jadi tidak saja masalah grasi.
Narkoba sama saja cara mendekatkan diri pada rokok begitu sebaliknya. Hingga
sampai detik ini, negeri yang anda pimpin begitu enggan untuk meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control
(FCTC) yang sudah dilakukan oleh mayoritas penghuni bumi. Narkoba-Rokok-Seks
merupakan tali temali yang melingkari kehidupan kaum muda saat ini. Kaum yang
suatu hari nanti akan meneruskan tanggung jawab berat anda, Tuan. Dan kita tidak akan pernah
berharap teralienasi dan absen untuk melindungi hak hidup kaum muda bangsa ini
walau dengan kecil-kecilnya perbuatan—termasuk Narkoba.
Tuan Presiden. Dengan pesan hemat, sebaiknya anda tidak perlu menjadi
polisi seperti dalam tiap film India. Sang penegak hukum baru hadir setelah
konflik antar peran menghasilkan korban di berbagai pihak. Hasilnya, kita hanya
menjadi seorang penonton ditemani rasa iba yang menyala-nyala. Dan segala
bentuk keputusan yang anda ambil pasti berdasarkan keputusan yang matang. Anda juga
pun harus mempertanggung jawabkan keputusan anda itu terhadap rakyat dan
akhirat kelak; sebagai Presiden.
Mengantuk!
Tuan Presiden, tidak perlu anda menghidupkan televisi sebab beritanya
masih saja soal hujatan terhadap berbagai kebijakan anda pilih. Bahkan penjelasan
pembantu anda hanya angin lalu atas muntahnya amarah publik. Tapi, jika anda
mempunyai nyali, tontonlah baik-baik. Dengarkanlah dalam-dalam. Ketuklah hati
tenang-tenang dan menangislah diam-diam. Barangkali, semua itu dapat mengasah
rasa kemanusiaan kita secara lebih bijak dan cepat dalam mengambil keputusan.
Tuan Presiden. Kami akan tetap minum kopi meski tanpa anda. Dan anggaplah
tulisan ini sebagai creamer yang akan
memberikan warna berbeda dalam kopi yang anda sedu. Sehingga tidak buram
seperti buramnya persoalan negeri ini.
Anekdot di dunia penikmat kopi; Mengantuk selesai minum kopi.
Memang penyakit lansia dan tukang mangkir, Tuan!
0 comments:
Posting Komentar