Waktu itu, kita duduk berdua di sudut
loby kampus Wirobrajan. Mendung pun terarak tiba-tiba kemudian terparkir diatas
kepala kita berdua. Mereka sekan ingin menjadi saksi atas pertemuan kita siang
itu. Aku memandangimu dengan tatapan tajam penuh harapan. Kita seperti orang
yang tidak saling mengenal—kita jatuh pada suasana ringkih yang dalam. Perlahan
aku membawa pembicaraan pada hal yang lebih serius; keseriusan tentang kita
berdua.
“Will you marry me..?” ucapku memecah mendung. Kamu terpaku kaku.
“Iya, maukah kamu menjadi ibu
untuk anak-anakku kelak dikemudian hari?”.
Aku mengeluarkan cincin dari
dalam ransel. Cincin yang sudah aku siapkan dari seminggu yang lalu. Karena,
hanya hari ini waktu yang tepat untuk mengutarakan keinginan baikku. Hari ini tanggal
2 juni adalah hari ulang tahunmu.
Kamu masih terpaku memandangiku. Seakan
rasa kaget, terkejut dan tidak percaya mendemonstrasi dalam dirimu. Tiba-tiba
beberapa detik kemudian linangan air mata mengalir dipipi ranummu. Menyapu taburan
bedak dan menghadirkan kecantikanmu yang sesungguhnya.
“Iya aku mau..”
“mau kenapa?”
“mau menjadi bagian hidupmu dan
mendampingimu dalam meraih mimpi. Aku bersedia menjadi ibu untuk anak-anakmu;
anak kita berdua” Jawabanmu mampu membuka tabir mendung. Perlahan cahaya
matahari pun menyembur. Menerangi kita berdua. Menerangi hubungan kita berdua.
…
Beberapa bulan kemudian kita pun
menikah. Kita memilih menjadi pasangan yang tidak lagi menerima kehadiran orang
lain hanya akan menimbul kekhawatiran. Barangkali, kita bisa memilih orang
lain. Mencintai orang lain dalam membangun mimpi masa depan. Namun, apakah kita
mampu ikhlas membuang fondasi berbagai pertukaran perasan dan pikiran yang
mengganggu waktu tidur kita berdua. Dan sekali lagi, kita memillih menjadi pasangan
yang ikhlas atas sebuah keputusan.
Aku selalu mencintamu; dari sejak pertama kali kita bertemu sampai
detik ini.
…
5 Maret 2012 jelang usia pernikahan
kita yang 18 tahun. Tuhan menghendakimu untuk menemuiNya. KataNya, ada rahasia
besar yang hendak Dia agendakan untuk kebaikan kita dan ke-3 buah hati kita
berdua. Kamu pun berpamitan dengan banjir air mata yang tidak bisa lagi untuk
dibendung. Sesak pun menyelinap dan meyempitkan ruang-ruang dalam dada. Aku melepasmu
dengan keikhlasan yang dalam.
Sampai detik ini setiap ruang
berisi tentang kenangan kita berdua. Hingga melafalkan aku selalu merindukanmu.
Membangkitkan jutaan peristiwa dan kenangan yang telah kita lalui bersama. Kadang-kadang
semua itu membuatku mengalirkan air mata; tanpa alasan dan perintah. Kamu memang
bukan seseorang yang begitu mudah untuk digantikan—apalagi dilupakan.
Sayangku, 3 permata hati kita
sudah menjadi orang yang luar biasa. Mereka mampu mengerjakan apa selalu kamu
ajarkan. Mengamalkan segalanya seperti kamu membimbing dan menjaga mereka meski
dari tempat yang jauh. Kakak sudah bisa mandiri; menyiapkan segala yang dahulu
menjadi tugasmu. Adik juga demikian; belajar berpuasa secara penuh untuk puasa
Ramadhan kali ini. Mereka mulai mandiri dan mengerti apa yang sebenarnya telah
pada mimpi besar kita; sekeluarga. Sungguh, didikanmu membekas dalam diri
mereka. Aku selalu mencintaimu.
… karena separuh aku dirimu.
Dan terjadi lagi
Kisah lama yang terulang kembali
Kau terluka lagi
Dari cinta yang rumit yang kau jalani
Aku ingin kau merasa
Kamu mengerti aku mengerti kamu
Aku ingin kau sadari
Cintamu bukanlah dia
Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Karena separuh aku dirimu
Kau ada di sini
Pahamilah kau tak pernah sendiri
Karena aku selalu
Didekatmu saat engkau terjatuh
Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Karena separuh aku
Menyentuh laramu
Semua lukamu telah menjadi milikku
Karena separuh aku dirimu
—tulisan ini terinspirasi dari suasana dan kisah seorang sahabat,
senior sekaligus dosen
yang beberapa waktu lalu Allah mengambil bagian tulang
rusuknya. Dan tulisan ini hanya untuk
mengenal suasana hati beliau; yang benar-benar kehilangan. Semoga sang istri mendapatkan
0 comments:
Posting Komentar