Cappuccino Tanya


Aku sudah tidak lagi menggila akibat meninggalnya Arya. Aku sudah ikhlas menerima kenyataan bahwa Arya memang lebih disayangi Tuhan dengan cara lebih cepat meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Dan takdir memang selalu penuh dengan kerahasiaan; kadang-kadang menimbulkan kejutan asa namun ada sejuta kebaikan yang menyertainya.


Entahlah. Belakangan aku lebih suka bertapa dipojok warung kopi, disudut Kota Jogja. hampir tiap malam aku plesiran ke warung kopi. Tapi, hanya 2 warung kopi yang membuat adrenalinku berpacu dengan cepat. Yaitu, warung kopi Blandongan yang dipintu masuknya terpampang “selamatkan Indonesia dari kekurangan kopi”. Dan yang kedua, Mato. Warung kopi yang bertengger dibantaran selokan Mataram. Tengah keriuhan orang yang minum kopi. Aku lebih suka duduk disudut pendopo warung kopi. Untuk menuangkan apa saja yang aku alami dalam selama perjalananku selama ini, Penting ataupun tidak penting, rahasia atau umum—perjalanan hidup; perjalanan panjang.

“Hey, suka sekali nyudut sendirian..” sambar Raka yang mengejutkanku. Dia teman baruku. Kami saling kenal beberapa bulan lalu. Oya, aku lupa bercerita pada kalian kalau aku sekarang aktif ikut organisasi di kampus. Setidaknya, organisasi membuatku sibuk; kata orang-orang aktivis itu orang sibuk. Dan di organisasi aku bertemu dengan Raka.

“Eh, orang jelek datang” ledekku. Aku tidak tahu dari mana dia tahu kalau aku sedang ngopi di Mato malam ini.

“oasem…”

Raka langsung memesankan secangkir kopi capucino untukku. Cangkir kedua yang akan aku tenggak dalam hitungan menit kedepan. Raka mengeluakan beberapa buku dari dalam ranselnya. Kemudian meletakkan semua buku itu diatas meja.

“itz.. mau ngapain kamu ini. Aku lagi tidak mau membaca” tuduhku.

“kepedean lhu. Ini buku baru yang aku beli barusan” Raka menyangkal. Dan memang benar, semua buku itu masih mengenakan baju plastiknya. Lama-lama lirikan mataku pada buku baru itu pun menimbulkan penasaran. Aku pun menyambil dan membacanya. Menyelingkuhi notebook yang sedari tadi memelukku.

“Tuhan itu apa ya?”

“maksudnya?” Raka bertanya balik. Dia bingung.

“Maksudku itu, yang dimaksud dengan Tuhan itu apa?. Selama ini aku mengerti Tuhan karena aku sudah diajarkan orang tuaku sejak dari kecil”

“sama kalo gitu”

“ih, ini serius jelek” desakku sama Raka. Aku sudah mulai kesal dengan orang jelek yang satu ini. Dan aku lebih suka memanggil dia dengan sebutan jelek ketimbang namanya sendiri.

“Tuhan itu seperti kita punyai pacar. Membutuhkan perasaan cinta, doa, rayuan, intensititas pertemuan; juga tangisan. Kita bisa saja tidak mencintainya hanya karena kamu belum pernah menemuinya secara langsung atau bahkan tidak mengenalnya. Tapi Tuhan tetap mencintai kita bahkan sejauh apapun kita pura-pura mencintaiNya, tidak mau mengenalNya, mengabaikanNya atau bahkan melupanNya—Tuhan tetap bersama kita”

“Tuhan memang bukan alasan untuk kita jelaskan dengan lebih detail. Karena Dia bukan partikel yang kemudian diruntuhkan oleh keberadaan materi. Tapi Tuhan bisa kita rasakan dalam hati dan keyakinan bahwa Dia bersama dengan kita” jelaskan Raka sambil menghirup kopi capucino yang dilatakkan oleh pegawai warung.

“kenapa kamu menjelaskan Tuhan dengan cara analogi, Ka?” tanyaku

“sederhana..”

“iya, sederhana kenapa?”

“Karena Tuhan itu bukan penjelasan, melainkan proses untuk mengenalNya. Keyakinan yang disebut iman itu yang kemudian menjadi komandonya. Dan hanya analogi yang menyederhanakan pemahaman kita tentang Tuhan” jawab Raka dengan sedikit mengusap keningnya.

Aku makin penasaran dengan manusia yang bernama Raka ini. kadang-kadang statementnya membuatku bertanya-tanya. Seakan aku menerima jawaban yang mengambang dari semua pertanyaanku. Termasuk malam ini. Ah! Kopi rasa capocino yang dipesannya memang menimbulkan sejuta rasa; juga pertanyaan.

Dasar orang jelek!


Link gambar (disini)

0 comments: