Miss World

Perbincangan mengenai Miss World. Makin sering mengemuka. Apalagi proses ritual kontestasinya diadakan di Indonesia. Negeri yang mengklaim bagian representasi adat ketimuran; yang sopan, tak suka mengombar, religius dan menghormati nilai-nilai keluhuran budaya. Hal yang jauh lebih penting karena, negeri ini mayoritas muslim. Hingga, ada yang menolak, ada pula yang mendukung.

Yang menolak, lebih didasari pada sejarah kontes Miss World itu sendiri, yang berawal dari kontes pakaian dalam “bikini” tahun 1951. Dalam perkembagannya kontes ini pun menjadi ajang promosi produk kecantikan, rancangan busana (fashion), destinasi wisata—hingga kontes ini pun mengambil branding dalam penilaiannya, yakni 3 B : Brain, Beauty, Behavior. Artinya, penolakan pun berkembang tidak hanya pada aspek historis. Melainkan merambah pada rangkaian agenda para kontestan, asal kontestan, eksploitasi kecantikan kontestan maupun—aspek keyakinan (agama) kontestan Miss World.

Bagi yang mendukung. Lebih lazim yakni untuk mendongkrak kunjungan wisata, promosi potensi daerah/negara, promosi eksistensi kemampuan perempuan di muka publik—tentunya, promosi klaim cantik luar dalam.

Sebenarnya, hampir tak ada jumlah pasti berapa dan siapa yang mendukung kontes ini. Sebab fakta yang terjadi mereka yang menolak, juga tidak pernah mempersoalkan proses para kontestan. Misalnya, kontestan asal Indonesia, tidak lain merupakan hasil audisi kontes serupa yakni Miss Indonesia, yang dilaksanakan secara luar biasa dan juga punya ekspose media. Hampir tak pernah terdengar protes dan penolakan terhadap penyelenggaraan Miss Indonesia. Tak terkecuali mereka yang menolak—bahkan salah satu produk kecantikan, yang mengklaim “religius” pernah menjadi sponsor.

Nah, membaca relasi Miss Indonesia-Miss World-Sponsor menjadi hal yang sangat penting. Mengapa? Karena, dari sinilah akar saling menolak dan mendukung itu saling bersinggungan satu sama lain. Sponsor Miss World yang akan dilaksanakan, hampir semua menjadi sponsor penyelenggaraan kontes serupa. Nyaris tidak akan ada sebuah agenda kontestasi pemilihan, jika tak pernah menghasilkan laba dan keuntungan. Oleh karena itu, adanya kontroversi dua kutub, kadangkala menjadi penting untuk membangun paradigma, branding, massa loyalis—dan sensasi.

Sebuah kemenangan kapatalisme global

Sebagai bangsa yang gampang lupa. Barangkali, masih ingat dengan kasus ASD, kontestan asal Indonesia yang mengikuti kontes serupa beberapa tahun lalu. Protes dan penolakan, merajalela dimana-mana. Hanya karena harus ASD memperlihatkan belahan dadanya. Dan salah seorang komentor menyebutnya “seksi”. Protes dan penolakan yang kembali terulang saat ini, agaknya cenderung berbeda, sebab pihak penyelenggara prosesi kegiatan kontestasi ini akan disesuaikan dengan adat ketimuran.

Jika ada penyesuaian dan penolakan. Jelas menimbulkan kejanggalan—antara dukung dan menolak. Tampaknya, posisi sponsor mengambil jarak akomodatif, untuk menghindari ragam bentuk kerugian. Dan rugi-untung, tentu saja persoalan bisnis dan akumolasi modal. Patut dicatat sebagian besar sponsor kontes ini berasal dari perusahaan kosmetik skala multinasional.

Jurus membangun persepsi dan kontroversi jadi penting dalam sistem kapitalisme global. Intrik tipu daya dalam membangun keduanya, terkadang cukup tipis. Miss World tidak lain bentuk kontestasi yang dibangun atas dasar persepsi dan kontroversi. Sebab dari sinilah persepsi tentang cantik langsing, rambut panjang, kulit putih, muda tak beranak, takar konsumsi produk, kain yang melekat—juga seksi. Dan kontroversi persaingan produk, pemahaman dukung-tolak, cantik-pintar, timur barat-barat—bahkan religius simbolik-religius subtantif.  

Jadi, apakah kontes ini merupakan bentuk ajang akulturasi budaya beda benua, skill, promosi pontensi negara—atau kemenangan perang kapitalisme global bidang kosmetik dan fashion? Apakah kontroversi ini, juga merupakan bentuk kekalahan industri yang tak bisa jadi sposor—ataukah, adanya peran ketidakmampuan kelompok/oknum, untuk membuat acara serupa yang bisa menyedot perhatian khalayak luas? Itulah, yang harus sama-sama kita cara jawabannya, sebelum menentukan pilihan menolak-mendukung. Apalagi, hemat saya, keberadaan Miss World tidak mengurangi keimanan saya terhadap Tuhan. Sebab "kepornoan" yang lebih menakutkan ketimbang Miss World, ada disekitar kita tiap hari—iklan televisi, internet, tempat hiburan, media cetak, baligho—juga dalam diri. 

Akhirul kalam. Menolak dengan cerdas, mendukung dengan cerdas, tidak tahu sebaiknya diam saja. Sebab, itulah selemah-lemahnya konsumen.


Sumber gambar (KLIK)

0 comments: