Kemesraan Nenek


Sama halnya dengan ributnya dua hari ini. Ditengah kekisruhan debat kenaikan BBM. Riuh lantang demonstrasi mahasiswa. Dan makin sulitnya oper isu yang berselancar di beragam media massa. Perbincangan khas menggema nenek disebelah tempatku tinggal di Suraonatan. Entahlah, apa saja yang mereka bicarakan. Terasa begitu sulit untuk bisa dipahami, sebab kadangkala pembicaraan mereka satu sama lain tidak konek—barangkali, itulah efek penyakit pikun.

Hampir tiap pagi mereka berada dipinggir teras depan rumah—tempat dimana ketiga nenek itu bermusyarawah berkeluh nasib. Keadaan mereka pun juga hampir sama; yakni sama-sama ditinggal anaknya yang sudah berkeluarga. Mereka tinggal sendiri di rumah yang mereka huni.

Sebut saja nama nenek pertama Mbah Sukar. Kondisi fisiknya bisa dianggap hobi terserang penyakit. Mbak Sukar kalau berjalan harus dipapangku tongkat berkaki empat, mirip meja kursi. Lewat tongkat berkali empat itulah badannya harus ditopang saat berjalan. Tiap 15 menit sekali ia harus ke kamar mandi untuk buang air. Dan akibat suka makan daging dan kacang-kacangan, penyakit asam urat pun sering melanda. Dan minum obat dengan dosis yang melampaui peringatan si obat. Ketika diingatkan terkait kebiasaan buruknya itu—mbah Sukar sering mengambek. Duh!

Nenek kedua, Mbah Nardi. Secara fisik masih bisa berjalan, meski dengan bantuan kacamata lensa tebal. Hal yang kadang menyulut emosi dari Mbah Nardi yakni penyakit pikunnya yang level lima. Sekeras apapun kita berteriak, kalau mimik mulut terlalu cepat, dapat dipastikan jawabannya tidak nyambung.  Dan ketiga, Mbak Pujiyem. Ia veteran pasukan militer perempuan Jepang. Kemampuan bahasa Jepangnya mengalahkan orang yang baru short corse 2 bulan. Hanya saja, ia kurang suka banyak omong. Mbah Puji inilah yang bisa diajak mengobrol sedikit lebih nyambung meski dengan singkat-singkat.

Kembali tulisan awal—tiap mereka berkumpul membicarakan sesuatu pasti berujung dengan pola komunikasi marah-rayu. Nenek emosional, nenek pikun dan nenek sedikit bicara, ketika karakter yang begitu sulit untuk pertemukan. Hanya perasaan senasiblah yang bisa mengihubungkan perasaan mereka masing-masing.

Ditengah kondisi yang kian dimakan usia, mereka tetap berkeinginan untuk hidup mandiri. Tak menggantungkan diri pada orang lain sekalipun pada anak mereka sendiri ataupun pada panti jompo. Namun, hal yang tidak bisa mereka tolak adalah keinginan untuk selalu bersama diusia senja dengan buah hati yang mementingkan prospek karir. Semua anak mereka merantau ke daerah lain—termasuk Jakarta. Kesepianlah yang menjadi hukum sebab-akibat.

Aku juga tidak tahu harus mulai dari mana untuk menceritakan keadaaan mereka. Sebab barangkali merekalah potret sebagian lansia di dalam kehidupan masyarakat madern. Masyarakat yang serba menuntut pemenuhan kebutuhan materi sebagai bekal dihari tua. Tanpa disadari secara perlahan mengaburkan bakti pada orang yang didoakan saban lima waktu terjebak dalam kesunyian dan atau sunyinya panti jompo.


Dari sinilah materi dalam satu sisi juga tidak bisa mendatangkan kebahagiaan. Dan materi juga akan pada takdirnya sebagai alat penujang bukan tujuan. Ketiga nenek itu, merindukan dimana saat-saat si buah hati berada dalam belaian selimut dekap kriputnya; kemesraan sebagai orang ibu dan anak.

Link (gambar)

0 comments: