: besok pagi
Masih saja teringat Ibrahim andai engkau ada hari ini. Masihkan esok akan seperti hari ini? Entahlah.
Ibarat parade. Semua ingin menunjukkan yang terbaik, unik dan terhebat. Berlomba atas keagungan rasa yang tidak bisa lagi diurus dalam-dalam. Hanya kepasrahan atas rasa yang berharap ada kemuliaan yang hadir di lain waktu dan tempat yang berbeda.
Maka, ibarat parade—kurban menjadi pertunjukan yang unik. Tidak sekedar himbauan Ilahi. Ada yang mencari harga, donasi, kupon, proposal, humbauan; bahkan legetimasi struktural. Kadang-kadang ada pula yang multi tafsir; mana berkurban, mana menyembelih untuk makan daging bareng-bareng. Parade kadang amat keji sebab hanya butuh penampilan bukan isensi.
Disebuah daerah yang mengganggap daerah terdidik ada deretan hewan kurban berbaris menjemput ajal. Secara kalkulasi kata sang penjaga hewan; tiap tahun turah-turah. Para donatur ingin menyaksikan saat darah keluar deras dari leher hewan. Sebab disanalah Malaikat hadir membawa catatan amal. Karenanya, semua hewan yang ingin di kurbankan harus di tempat itu; tentunya, untuk disaksikan, dilihat dan difoto untuk memastikan hewan kurbannya telah disembelih. Bukan bagaimana jalur distrubusi merata pada mereka yang tidak mampu. Dan disinilah rumus makan daging bareng-bareng itu dimulai—turah-turah
Di lain tempat. Tepatnya di daerah pedalaman peta jawa. Ada sekelompok warga tidak menyembelih sapi, kambing atapun domba. Mereka menyembelih ayam yang mereka beli dari pasar pagi harinya. Dan tradisi itu sudah berlangsung sejak turun-temurun. Ketidakmapuan menyembelih standar ajaran kurban yang membuat mereka menyembelih ayam. "Kurban itu keikhasan bukan hanya sekedar bentuk" keluh mereka saat tanya mulai merayap atas rasa penasaran. Ayam hanya simbol bahwa hanya dengan cara itu mereka dapat berkurban atas keikhlasan. Barangkali, lebih tepat untuk menyemarakkan hari Raya Idhul Kurban
Kabar terakhir. Idhul Kurban kali ini sudah ada peningkatan. Mereka akan berkurban 2 kambing yang akan dibagi pada 100 keluarga yang ada dikampung itu, Rasanya, tidak bisa dibayangkan dengan cara seperti apa daging itu dicacah—mungkin diiris. Barangkali, rumus turah-turah itu mulai dari sini bisa diterapkan.
Berkurban—tak lain proses keikhasan. Pengorbanan atas apa yang dicinta; aku, kamu, kita untuk mereka. bukan saja sekedar ritus-ritus dan parade.
# Selamat Idhul Adha (Kurban); Semoga makin reflektif
# Selamat Idhul Adha (Kurban); Semoga makin reflektif
0 comments:
Posting Komentar